Jakarta, Wartana.com – Pemerintah Indonesia resmi memangkas pasokan ekspor gas bumi ke Singapura pada akhir pekan lalu. Keputusan ini diambil untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, terutama kelistrikan. Menanggapi kebijakan tersebut, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong buka suara, berharap semua pihak menghormati komitmen kontrak dan menyatakan keseriusan negaranya mengkaji potensi energi nuklir.
Rencana pemangkasan ekspor gas ini sebelumnya diutarakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada 21 Oktober. Bahlil menyatakan pertimbangan pemerintah untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor gas dengan negara tetangga demi menjamin ketersediaan energi di dalam negeri. “Jadi, kalau negara lain ada pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga karena harus survival kan, harus penuhi kebutuhan dalam negeri,” ungkap Bahlil usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto pada Sabtu (24/10) mengonfirmasi pengalihan pasokan gas ke dalam negeri. Pengalihan ini dilakukan melalui dua jalur utama: dari Natuna menuju Batam, serta pengurangan pasokan gas dari Sumatra. “Mulai hari ini, pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri dari Natuna ke PLN Batam melalui Pipa WNTS-Pulau Pemping-Batam sebesar 15 juta standar kaki kubik,” jelas Djoko. Selain itu, pemerintah juga mengurangi gas dari Sumatra ke Singapura sebesar 16 juta standar kaki kubik per hari melalui Pipa Transgasindo (TGI), yang selama ini digunakan untuk kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong merespons keputusan Indonesia tersebut dalam konferensi Partai Aksi Rakyat (PAP) pada Minggu (25/10). Wong menegaskan pentingnya penghormatan terhadap komitmen kontrak komersial yang telah disepakati. “Kami berharap semua pihak menghormati komitmen mereka. Importir gas ke Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut,” kata Wong. Ia menambahkan, Singapura telah berinvestasi dalam pembangunan terminal gas alam cair (LNG) untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan mengurangi ketergantungan pada jaringan pipa.
Mengingat sebagian besar kebutuhan listrik Singapura berasal dari gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui jaringan pipa, Wong menekankan perlunya mencari sumber energi alternatif yang lebih bersih dan andal. “Kita juga perlu sumber energi yang lebih bersih untuk menyediakan listrik yang andal sepanjang waktu. Itulah sebabnya, kita serius mengkaji potensi energi nuklir,” ungkapnya. Meskipun mengakui kekhawatiran terkait penggunaan energi nuklir di negara kecil dan padat penduduk, Wong menyatakan pemerintah akan mengkaji risiko dan dampaknya secara cermat serta melibatkan masyarakat sebelum mengambil keputusan final.









