Jakarta, Wartana.com – Iran dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur maritim vital untuk pengiriman minyak global, namun dengan syarat ketat. Akses bagi kapal tanker minyak disebut hanya akan diizinkan jika transaksi perdagangan minyak yang diangkut menggunakan mata uang Yuan China, bukan Dolar AS. Usulan ini muncul di tengah ketegangan geopolitik dan sebagai bagian dari strategi Teheran untuk mengelola lalu lintas di selat strategis tersebut.
Informasi ini diungkapkan oleh seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya kepada CNN, yang juga mengutip laporan Al Jazeera. Namun, Al Jazeera sendiri belum dapat memverifikasi kebenaran informasi tersebut secara independen. Rencana ini disinyalir merupakan bagian dari skema yang lebih besar yang sedang disusun oleh Teheran untuk mengendalikan arus kapal tanker pasca-eskalasi konflik antara Israel-AS dan Iran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, sejalan dengan tren global di mana negara-negara seperti Rusia yang disanksi juga telah beralih ke rubel atau yuan dalam perdagangan minyaknya. “Jika rencana ini benar-benar diterapkan, ini akan menjadi sinyal kuat pergeseran geopolitik dan ekonomi yang signifikan, menantang dominasi dolar AS dalam pasar energi,” ujar Dr. Hamid Reza, Analis Geopolitik Timur Tengah dari Universitas Teheran.
Selat Hormuz memiliki posisi krusial sebagai jalur keluar masuk perdagangan minyak dari negara-negara Teluk, menghubungkan produsen minyak utama dengan pasar global. Penutupan atau pembatasan di selat ini secara historis selalu memicu gejolak harga minyak mentah dunia. Sebagai contoh, konflik sebelumnya yang melibatkan Iran dan AS sempat membuat harga minyak acuan Brent melonjak tajam.
Pada Senin (9/3) lalu, harga minyak acuan Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2022, yaitu US$119,50 per barel, sebelum kemudian turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan potensi berakhirnya konflik. Namun, gejolak kembali terjadi dengan kenaikan harga kontrak minyak mentah Brent menjadi US$100,52 per barel pada pagi hari berikutnya, menyusul peningkatan serangan yang dilakukan Iran terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah.









