Jakarta, Wartana – Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, menegaskan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat serta penjaga persatuan umat. Hal tersebut disampaikannya usai melantik KH Ma’mun Al Ayubi sebagai Ketua DMI Provinsi DKI Jakarta masa khidmat 2025–2030 di Balai Kota Jakarta, Rabu (11/02/2026).
Menurut Jusuf Kalla, masjid memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Ia menekankan bahwa fungsi utama masjid memang sebagai tempat ibadah, namun juga harus menjadi ruang diskusi, pemelihara lingkungan, dan perekat persatuan umat.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah. Prinsip pokoknya memang tempat ibadah, tetapi juga untuk menciptakan masyarakat yang berdiskusi, memelihara lingkungan, dan menjaga persatuan,” ujarnya.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia itu juga menegaskan bahwa masjid harus bersifat inklusif dan tidak membeda-bedakan latar belakang suku maupun golongan. Menurutnya, masjid adalah milik bersama seluruh umat.
“Tidak ada masjid Betawi, tidak ada masjid Sumatra, tidak ada masjid Sulawesi. Semua boleh. Masjid memelihara persatuan,” kata Jusuf Kalla.
Selain peran sosial, Jusuf Kalla menyoroti pentingnya pengaturan penggunaan pengeras suara masjid, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta yang memiliki jarak antarmasjid relatif berdekatan. Ia mengingatkan agar penggunaannya tidak berlebihan sehingga tidak mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
“Pengajian sebelum azan cukup lima menit. Tidak perlu panjang-panjang. Ceramah juga tidak perlu disiarkan ke luar masjid. Cukup yang di dalam saja agar tidak saling bertabrakan dengan suara masjid lain,” ujarnya.
Menurutnya, pengaturan tersebut penting untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama, termasuk bagi warga yang sedang sakit, anak-anak sekolah, maupun pekerja yang beraktivitas sejak pagi hari.
Lebih lanjut, Jusuf Kalla mendorong pengurus masjid untuk berinovasi dan kreatif dalam memberdayakan ekonomi umat. Ia mencontohkan sejumlah masjid yang mengembangkan unit usaha seperti kedai kopi atau coffee shop untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
“Masjid harus berkreatif. Ada masjid yang membuat usaha seperti coffee shop untuk memberi orang pekerjaan. Ini bagian dari membangun masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan peran masjid dalam situasi darurat atau bencana. Menurutnya, masjid yang memiliki fasilitas air, toilet, dan ruang yang memadai dapat dimanfaatkan sebagai tempat penampungan sementara bagi warga terdampak.
Pelantikan pengurus DMI DKI Jakarta periode 2025–2030 ini diharapkan mampu memperkuat peran masjid di ibu kota sebagai pusat ibadah, persatuan, serta pemberdayaan sosial dan ekonomi umat.
Sementara itu, pelantikan Ketua DMI DKI Jakarta tersebut turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, unsur Forkopimda DKI Jakarta, tokoh masyarakat, serta alim ulama. (*)












