Candi Koto Mahligai: Pintu Menuju Masa Kejayaan Batanghari

Wisata Sejarah
Candi Koto Mahligai (foto:travel.detik.com)

Terletak di tepi Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Pulau Sumatra, Candi Koto Mahligai merupakan situs purbakala yang membawa pengunjung menembus lorong waktu menuju peradaban kuno yang pernah berjaya di Jambi. Jaraknya yang hanya sekitar 900 meter dari Candi Kedaton menjadikannya bagian integral dari kompleks Percandian Muaro Jambi—salah satu kompleks percandian terbesar di Asia Tenggara. Candi ini tidak hanya megah dalam bentuk, tetapi juga kaya dalam cerita yang terpatri pada susunan batunya yang telah bertahan selama berabad-abad.

Ditetapkan secara resmi sebagai situs cagar budaya pada tahun 2013, Candi Koto Mahligai berdiri di atas area seluas hampir 4.000 hektar yang mencakup struktur candi, situs permukiman, dan kanal-kanal kuno. Kompleks ini memberikan gambaran akan kecanggihan arsitektur, perencanaan kota, dan kehidupan spiritual masa lalu. Candi Koto Mahligai bukan sekadar tumpukan batu tua—ia adalah saksi bisu dari kemegahan intelektual dan spiritual yang pernah berkembang di tanah Jambi.

Rute Menuju Candi

Rute ke situs ini mungkin memerlukan perjalanan dengan sepeda motor atau sepeda sewaan, dan pengunjung disarankan untuk memakai pakaian lengan panjang serta membawa losion anti-nyamuk.

Harga Tiket Masuk

Sampai saat ini belum ada harga tiket untuk masuk kawasan Candi.

Jam Operasional

Bagi yang berani dan sanggup bisa datang kapan saja, tapi ingat ya kalau daerah kawasan situs Candi bisa dibilang masih sangat jarang bertemu manusia.

Keajaiban Arsitektur Kuno

Candi koto Mahligai

Reruntuhan Candi Koto Mahligai

Candi Koto Mahligai adalah sebuah contoh indah dari arsitektur kuno yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban agama Buddha terbesar di dunia. Candi ini dikelilingi oleh tembok berukuran 97,5 x 120 meter yang memberikan kesan kemegahan dan perlindungan terhadap bangunan suci di dalamnya. Tembok ini membagi ruang antara candi utama (candi induk) dan mandapa di bagian timur. Kecerdasan arsitektural dari kompleks candi ini menggambarkan kebijaksanaan para bangsawan zaman dulu dalam membangun bangunan yang kokoh.

Candi tersebut memiliki gundukan candi utama berukuran 20 x 20 meter dan candi perwara berukuran 20 x 15 meter. Pemandangan ini memukau para pengunjung dengan detil ukiran yang halus dan kerumitan desain arsitekturnya. Sebagai candi agama Buddha, situs tersebut menyiratkan kedalaman spiritual dan kebijaksanaan yang tercermin dalam setiap detailnya.

Temuan Arca Gajah dan Arca Buddha

Makara Candi Muaro Jambi

Situs sejarah ini telah mengungkapkan banyak harta karun sejarah yang mengejutkan. Di dalam lingkungan Candi Koto Mahligai, ditemukan dua arca gajah yang memikat. Bentuknya hampir sama dengan arca gajah yang ditemukan di Candi Gedong I. Arca-arca gajah ini memberikan wawasan tentang kehadiran binatang ini dalam budaya dan kepercayaan masyarakat masa lalu.

Namun, yang paling menarik adalah temuan tiga arca Buddha dari batu yang telah rusak. Arca-arca ini diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, yang menggambarkan perjalanan agama Buddha ke wilayah ini pada masa itu. Perbandingan gaya pakaian arca Buddha dari Muarajambi dengan arca Buddha dari India Utara dan wilayah lainnya memberikan bukti tentang pengaruh budaya dan agama di wilayah ini.

Kehidupan di Sekitar Candi Koto Mahligai

Pohon Kundu

Selain kekayaan arkeologi dan seni, Candi Koto Mahligai berada dalam lingkungan yang menakjubkan. Pohon-pohon duku dan durian tumbuh subur di tepi jalan Desa Baru, menciptakan lanskap yang memikat sepanjang perjalanan menuju situs bersejarah ini. Buah duku yang disebut “duku Palembang” sering berasal dari Kabupaten Muaro Jambi, termasuk yang tumbuh di dalam KCBN Muarajambi.

Tak hanya itu, dalam kompleks percandian ini, terdapat juga pohon kundu atau pohon sialang (Koompassia excelsa) yang hanya bisa ditemui di area Candi yang berusia antara 600 sampai 700 tahun. Keunikan pohon ini adalah akar-akarnya yang besar dan mencuat di permukaan tanah. Akarnya dapat mencapai ukuran luar biasa, sekitar 5-6 meter, dan memerlukan enam orang dewasa yang bergandengan tangan untuk mengelilingi akarnya. Pohon-pohon ini menciptakan suasana hening dan teduh, menciptakan pengalaman yang unik bagi para pengunjung. Penduduk setempat sering menyebutnya “pohon madu” karena ribuan lebah suka membangun sarang di dahan-dahan pohon kundu. Untuk mengumpulkan madu dari sarang lebah tersebut, penduduk menggunakan tangga kayu dan naik hingga ke bagian batang yang dapat dipeluk.

Tips Berwisata di Kawasan Candi

  1. Diperbolehkan menikmati duku sebanyak yang diinginkan, tetapi disarankan untuk tidak membawanya pulang.
  2. Disarankan menggunakan lotion anti nyamuk.
  3. Mohon untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jika Anda menghasilkan sampah, harap bawa kembali karena tidak ada tempat sampah di area ini.
  4. Karena tidak ada fasilitas toilet, disarankan untuk pergi ke toilet terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi ini.

Keindahan arsitektur, artefak bersejarah, dan lingkungan alam yang menakjubkan menjadikan kunjungan ke situs ini sebagai objek wisata yang luar biasa. Dengan harapan bahwa keindahan ini akan tetap terjaga dan terus mempesona para generasi mendatang, Candi Koto Mahligai adalah saksi bisu yang membantu kita memahami perjalanan panjang sejarah dan budaya Indonesia yang kaya. Ok Bamers, rencanakan kunjungan ke situs ini, nikmati keindahan alam dan budaya Jambi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *