Jakarta, Wartana.com – Keberanian Republik Islam Iran dalam menghadapi potensi gempuran dari Amerika Serikat dan Israel telah menarik perhatian global. Situasi ini menjadi sorotan mengingat AS dan Israel dikenal sebagai negara-negara dengan kekuatan militer dan persenjataan paling canggih di dunia.
Menurut data dari globalfirepower.com, Amerika Serikat menempati peringkat pertama dalam kekuatan militer global, diikuti oleh Israel di posisi ke-14 dari total 145 negara. Sementara itu, Iran sendiri berada di peringkat ke-16. Dari segi populasi, Amerika Serikat memiliki sekitar 348 juta jiwa, menempatkannya sebagai negara berpenduduk terbanyak ketiga di dunia. Israel, meski dengan populasi sekitar 10,1 juta jiwa, telah lama mendapatkan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Republik Islam Iran, berdasarkan data terbaru dari Worldometer yang mengelaborasikan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, memiliki populasi sekitar 92.983.975 jiwa. Angka ini setara dengan 1,12% dari total populasi dunia, menempatkan Iran di peringkat ke-17. Kepadatan penduduk di Iran adalah 57 jiwa per Km², dengan 73,54% populasinya, atau sekitar 68.514.252 jiwa pada tahun 2026, tinggal di perkotaan. Usia median penduduk Iran tercatat 34,5 tahun.
Di balik keberanian tersebut, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Sya’roni Rofii, mengungkapkan bahwa embargo yang diterapkan justru mendorong kemandirian Iran. “Meski Iran diembargo ternyata justru membuat Iran semakin mandiri, termasuk soal merakit dan membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) seperti rudal dan drone,” ujarnya. Sanksi ketat dari Amerika Serikat dan berbagai pembatasan multilateral lainnya selama puluhan tahun memaksa Teheran untuk mengembangkan industri pertahanan domestik dan memproduksi sistem persenjataan secara mandiri.
Sya’roni menambahkan bahwa adaptasi strategi untuk mengakali pembatasan dan penekanan pada kemandirian menjadi kunci. “Ilmuwan Iran dituntut untuk berinovasi di tengah embargo. Dan itu berhasil. Kedua, prinsip yang ditanamkan kepemimpinan Iran: menanamkan semangat perlawanan terhadap Barat. Sehingga dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi semangatnya sama yakni menjadi bangsa mandiri,” jelasnya. Kemandirian ini tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan domestik, melainkan Iran bahkan telah menjadi pengekspor penting drone militer dan rudal, misalnya kepada Rusia sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022, sebagaimana dikutip dari CNBC International.









