Makassar, Wartana – Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, memaparkan visi pembangunan ekonomi berbasis nilai budaya dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) ke-XXVI Tahun 2026 di Phinisi Ballroom Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026).
Di hadapan ratusan pengusaha perantau, Zainal menegaskan bahwa tema “Saudagar Tangguh, Ekonomi Tumbuh” tidak hanya mencerminkan semangat kewirausahaan, tetapi juga menekankan pentingnya kepemimpinan berlandaskan nilai budaya sebagai penggerak ekonomi masa depan.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa falsafah “Siri’ Na Pacce” merupakan kompas moral dalam menjalankan pemerintahan dan bisnis. Nilai integritas, keberanian, serta rasa malu jika tidak berprestasi, menurutnya, menjadi fondasi lahirnya saudagar yang tangguh.
Ia menilai, di tengah disrupsi global, nilai-nilai tradisional Bugis-Makassar justru menjadi modal sosial penting dalam membangun kepercayaan investor dan mitra strategis internasional.
Mantan Wakapolda Kalimantan Utara tersebut juga menyampaikan pesan tentang pentingnya keberanian dalam meraih kesuksesan.
“Kesuksesan adalah buah dari keberanian menembus batas,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemimpin sejati lahir dari kemampuan mengubah tantangan di wilayah terpencil menjadi peluang, yang selama ini diterapkan dalam pembangunan ekonomi Kalimantan Utara.
Menurutnya, capaian ekonomi daerah tidak terlepas dari konsistensi menerapkan prinsip sipakatau (saling memanusiakan) dan sipakainge (saling mengingatkan) dalam setiap kebijakan publik.
Zainal juga memaparkan potensi strategis Kalimantan Utara sebagai provinsi dengan luas wilayah 75.467,70 km² yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Posisi tersebut menjadikan wilayahnya sebagai gerbang depan ekonomi Indonesia dan titik kolaborasi lintas batas.
Ia menyebut sejumlah sektor unggulan yang siap dikembangkan, antara lain hilirisasi nanas Krayan, komoditas laut, industri sarang burung walet, peternakan modern, serta pariwisata lintas negara di Tarakan dan Nunukan.
Di akhir pemaparannya, Zainal mengajak para saudagar Bugis-Makassar untuk berkontribusi dalam pembangunan wilayah perbatasan.
Ia menegaskan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.











