Barru, Wartana.com – Pemerintah Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, kembali menghidupkan tradisi leluhur melalui ritual Mappalili sebagai tanda dimulainya Musim Tanam 2026/2027. Acara yang sarat makna spiritual ini dihadiri langsung oleh Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., di hamparan persawahan Dusun Cilellang Selatan pada Rabu (07/10/2026).
Tradisi Mappalili merupakan warisan budaya suku Bugis yang dilakukan menjelang turun ke sawah. Ritual ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk doa kolektif agar hujan segera mengguyur bumi, tanaman terhindar dari serangan hama, serta hasil panen melimpah bagi seluruh petani.
Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pimpinan OPD Kabupaten Barru, unsur Tripika Kecamatan Mallusetasi, tokoh masyarakat, hingga para kelompok tani. Kepala Desa Cilellang, Perawati, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Bupati Barru yang secara konsisten mendukung kegiatan pertanian di desanya.
“Selamat datang kepada Ibu Bupati beserta rombongan di Desa Cilellang. Tahun lalu Ibu Bupati juga hadir di acara Mappalili di Dusun Cilellang Utara, tahun ini di Cilellang Selatan,” ujarnya.
Perawati menjelaskan bahwa lokasi kegiatan tersebut merupakan area sakral yang secara turun-temurun digunakan warga sebelum memulai aktivitas di sawah. “Kita melaksanakan Mappalili atau turun sawah dengan harapan semoga nantinya bisa turun hujan, kita bisa bertani dan mendapatkan hasil yang melimpah dan dibebaskan dari hama,” katanya.
Selain soal tradisi, aspirasi terkait infrastruktur turut disuarakan, terutama mengenai jalan tani yang krusial bagi mobilisasi hasil panen. “Harapan kami mewakili para kelompok tani, mudah-mudahan jalan tani yang kita lewati tadi bisa diperhatikan. Alhamdulillah ada kabar baik katanya sudah bisa dikerjakan tahun ini,” ungkap Perawati.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru, Ahmad, turut memberikan catatan penting terkait kondisi iklim. Berdasarkan data BMKG, fenomena ENSO diprediksi akan membuat hujan baru turun secara stabil pada pekan ketiga November 2026. Ia menekankan agar petani di Barru bersikap adaptif dengan melakukan percepatan pola tanam dan penggunaan varietas umur pendek.
“Desa Cilellang ini sangat responsif terhadap yang namanya turun sawah. Turun sawah itu adalah bagian dari kebahagiaan dan kesiapan untuk menyongsong pola tanam,” ujar Ahmad. Ia juga menambahkan, “Prinsipnya wajib seluruh kelompok tani di Kabupaten Barru mengikuti iklim, jangan melawan iklim.”
Dalam arahannya, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menegaskan esensi dari Mappalili sebagai pondasi spiritual dalam bekerja. “Mappalili ini bukan sekadar hanya turun dengan para pejabat mencangkul dan kemudian selesai. Tetapi Mappalili ini adalah doa. Kita memulai pekerjaan dengan Bismillah, kita memanjatkan doa semoga apa yang kita lakukan itu insya Allah akan memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya para petani,” tegasnya.
Bupati perempuan pertama di Barru ini juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan antarpetani dan mengikuti arahan dari penyuluh pertanian agar hasil produksi tetap terjaga. “Kalau kita kuat bersama, apapun masalah pertanian kita akan teratasi. Jangan kita jalan sendiri, jangan hanya mendengar orang di sana pakai bibit beda terus kita ikut. Belum tentu hasilnya sama karena kondisi lahan berbeda. Ikuti arahan penyuluh dan pemerintah,” pesan Andi Ina.
Menutup sambutannya, Bupati berkomitmen untuk terus mengawal bantuan benih, alat mesin pertanian (alsintan), hingga pembangunan jalan tani dengan catatan tidak merusak ekosistem sawah. Ia juga memberikan peringatan keras terkait program cetak sawah baru agar dilakukan secara tepat sasaran.
“Saya tekankan kepada cetak sawah itu jangan hanya melihat program itu kita dapat dan kemudian langsung diambil. Harus tepat sasaran. Jangan sampai lahan yang dijadikan cetak sawah ternyata bukan lahan pertanian dan tidak bisa ditanam. Akhirnya anggaran terbuang. Satu rupiah anggaran itu sangat berarti untuk masyarakat. Lebih bagus tolak kalau memang tidak bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.











