MAKASSAR, Wartana.com – Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan kondisi antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) di sebagian besar wilayah Sulawesi mulai menunjukkan normal dan kondusif per Rabu (23/9/2026). Meskipun demikian, kepadatan kendaraan masih terpantau di beberapa daerah pada waktu dan jenis BBM tertentu. Langkah-langkah strategis seperti peningkatan pasokan, penyesuaian jam operasional SPBU, dan pengawasan ketat terus dilakukan untuk memastikan pemerataan distribusi.
“Kami terus memantau kondisi penyaluran BBM di seluruh wilayah Sulawesi. Secara umum kondisi terpantau kondusif, meskipun di beberapa daerah masih terdapat kepadatan pada jam-jam tertentu,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto.
Lilik menjelaskan bahwa pola penyaluran BBM disesuaikan dengan kebutuhan spesifik di masing-masing wilayah. Secara umum, beberapa langkah yang telah diterapkan Pertamina untuk menjaga kelancaran pelayanan meliputi penambahan jam operasional Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), pengoptimalan penggunaan nozzle Pertalite, serta berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menertibkan praktik pengecer ilegal. Selain itu, Pertamina juga menerapkan kebijakan batas maksimal pengisian BBM harian yang disesuaikan dengan kapasitas tangki standar kendaraan.
Kondisi antrean di SPBU di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dilaporkan telah kembali normal. Pertamina memperkuat pasokan dengan menambah suplai Pertalite sebesar 35 persen dan Solar sebesar 4,4 persen. Langkah operasional di kedua provinsi ini mencakup penambahan jalur pelayanan Pertalite, penambahan jam operasional SPBU dan Depot Makassar, hingga penambahan operator dan Marshall SPBU. Sebelumnya, sempat diterapkan sistem ganjil-genap pada 13-20 September 2026 serta pengaturan pengisian BBM bagi kendaraan besar pada malam hari. Sementara itu, di Sulawesi Tenggara, penyaluran BBM disebut telah kondusif dengan rata-rata penyaluran harian sepanjang September yang meningkat 22,7 persen dibandingkan rata-rata normal Januari-Mei. Di Gorontalo, meskipun kepadatan masih terjadi pada jam tertentu, kondisinya terkendali dan antrean panjang tidak lagi ditemukan. Pertamina mengoptimalkan penyaluran dari Depot Gorontalo dan memanfaatkan nozzle Pertalite sebagai jalur tambahan pengisian.
Berbeda halnya dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara yang masih mengalami beberapa tantangan. Di Sulawesi Tengah, kepadatan antrean masih terjadi pada jam sibuk penyaluran Biosolar, terutama di Kabupaten Buol yang memiliki dua SPBU reguler. Untuk mengatasi ini, Pertamina meningkatkan suplai sekitar 5 persen dari rata-rata penyaluran normal harian, memperkuat pengaturan antrean melalui Marshall SPBU, dan berkoordinasi dengan Depot Tolitoli untuk memprioritaskan pengiriman ke Buol. Pengawasan penyaluran juga diperketat, termasuk memastikan kesesuaian QR Code dengan nomor polisi kendaraan. Di Sulawesi Utara, antrean Biosolar masih terpantau di Kota Manado. Pertamina merespons dengan meningkatkan penyaluran harian Biosolar sebesar 8 persen dibandingkan Agustus serta menambah nozzle Biosolar, sementara untuk Pertalite, kondisi penyaluran disebut aman dan kondusif.
Lilik menegaskan bahwa setiap wilayah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda, sehingga penanganan yang diberikan disesuaikan, mulai dari penguatan suplai, penyesuaian jam operasional, penambahan fasilitas pengisian, hingga penguatan pengawasan di SPBU. Menutup keterangannya, Pertamina mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Masyarakat juga diminta untuk selalu mengikuti arahan petugas SPBU serta menggunakan BBM sesuai peruntukannya. “Kami mengimbau agar pembelian dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Dengan begitu, distribusi BBM dapat berjalan lebih merata dan masyarakat yang membutuhkan dapat tetap terlayani,” pungkas Lilik. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi akan terus memantau stok, penyaluran, dan pelayanan SPBU di seluruh wilayah, serta melakukan penyesuaian distribusi berdasarkan perkembangan kebutuhan di lapangan. Masyarakat dapat menyampaikan informasi atau pengaduan melalui Pertamina Contact Center (PCC) 135 yang beroperasi 24 jam.









