Prancis Bergejolak: Hampir 2.000 Orang Ditangkap dalam Protes Siswa yang Meluas

Nyaris 2 Ribu Orang Ditangkap dalam Aksi Protes Siswa di Prancis
Ilustrasi. Sebanyak hampir 2 ribu orang ditangkap dalam aksi unjuk rasa siswa dan mahasiswa yang meluas di Prancis pada Jumat (2/10). (iStockphoto/SimonSkafar)

Paris, Wartana.com – Hampir dua ribu orang telah ditangkap dalam gelombang aksi unjuk rasa siswa dan mahasiswa yang meluas di berbagai wilayah Prancis pada Jumat (2/10). Protes yang semula menyuarakan keprihatinan atas kekurangan guru dan kondisi bangunan sekolah ini, telah berkembang menjadi insiden kekerasan dan bentrokan dengan aparat keamanan.

Aksi protes, yang pertama kali meletus di Paris sejak September, merespons isu serius seperti kurangnya jumlah guru dan kondisi bangunan sekolah yang rusak. Namun, seiring berjalannya waktu, demonstrasi damai ini berubah menjadi kerusuhan yang melibatkan tindakan kekerasan di sejumlah wilayah, bukan hanya di ibu kota.

Menteri Kehakiman Gerald Darmanin menyatakan kepada radio RTL bahwa situasi ini telah berubah drastis. “Ada minoritas yang aktif dan melakukan kekerasan dalam protes ini. Kami bahkan tidak yakin apakah mereka adalah siswa sekolah menengah atas,” ujarnya. Darmanin juga mengungkapkan bahwa hampir 2.000 orang telah ditangkap sejak aksi protes dimulai, dengan sekitar dua per tiga dari jumlah tersebut ditahan oleh polisi. Ia menambahkan, “Ini telah beralih dari demonstrasi siswa SMA menjadi gangguan ketertiban umum. Orang-orang menargetkan bus dan membakar sekolah. Itu bukan lagi sekadar masalah protes.”

Laporan menyebutkan, aksi protes diwarnai dengan pembakaran sejumlah fasilitas dan bentrokan dengan polisi sejak Rabu (30/9). Beberapa video yang beredar di media sosial bahkan memperlihatkan seorang guru diserang oleh massa. Selain itu, berdasarkan laporan dari The Independent, sejumlah lembaga intelijen mengklaim bahwa politisi sayap kiri garis keras turut berkontribusi dalam memicu kerusuhan, tuduhan yang kemudian dibantah oleh anggota parlemen.

Aksi protes ini sebenarnya telah dimulai di beberapa sekolah di Prancis sejak pekan sebelumnya. Namun, eskalasi kekerasan mulai meningkat secara signifikan pada Selasa (29/9) dan memburuk di hari-hari berikutnya, dengan mahasiswa juga turut bergabung dalam unjuk rasa. Akar kemarahan siswa disebut-sebut berasal dari sektor pendidikan yang kekurangan sumber daya, di mana mereka mengeluhkan banyak guru yang tidak diganti dan kondisi bangunan sekolah yang tidak memadai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *